Ini harus kita bicarakan secepatya :)

(Mencoba membahas)
beberapa hari belakangan saya mengikuti hash tag twitter #nurdinturun, siapakah nurdin yang dimaksud? Yang pasti bukanlah nama seorang tukang gorengan yang setiap malam sibuk menunggu pelanggan yang akan memborong gorengannya hanya untuk membayar sekolah anak-anaknya, bukan nama seorang pemulung yang mengharapkan ada barang yang bisa dia ambil dari tong sampah orang lain untuk dijual kembali sekedar untuk menafkahi keluarganya, bukan pula nama seorang pengemis yang setiap hari berpanas-panas hanya sekedar untuk mendapatkan sesuap nasi untuk keluarganya. Namanya mirip nama seorang terroris yang katanya sudah tewas di tangan sebuah detasmen khusus, tapi untuk kemiripan nama dengan yang terakhir tadi mungkin bukan cuma namanya yang mirip namun kelakuan orang nomor satu di sebuah lembaga sepakbola nasional ini juga mirip dengan teroris setidaknya menurut saya.

Dalam sebuah account twitter yang diikuti oleh ratusan penduduk Indonesia, sempat meminta opini para pengikutnya dengan melempar sebuah pertanyaan pada account-nya âsebutkan 3 alasan kenapa harus #nurdinturunâ dan beberapa menjawab bahwa dia korup, tidak becus mengurus Timnas, mempolitisasi persepakbolaan nasional dan banyak pula yang bilang bahwa alasannya terlalu banyak untuk disebutkan tidak cukup kalau cuma tiga, berdasarkan hal tersebut diduga terdapat kesalahan tanpa perbaikan yang dilakukan berulang kali oleh #nurdinturun sehingga itu sudah menjadi rahasia umum rakyat Indonesia, terutama para pecinta bola.

Statement dari #nurdinturun yang dikutip oleh detikcom yang menyatakan bahwa kekalahan Timnas Indonesia dalam ajang piala AFF adalah takdir tidaklah salah apabila dia bukanlah seorang yang berpendidikan atau bisa dimaklumi kalau dia adalah seorang tukang becak yang tidak mampu membeli tiket untuk masuk GBK pada saat final piala AFF digelar, sehingga dia tidak mampu menganalisis pertandingan itu dan tidak mampu melihat kelemahannya sendiri. sebaliknya yang dia gunakan adalah mengkambinghitamkan takdir atas kekalahan Timnas sepakbola Indonesia pada media massa nasional.

Kritik pedas datang dari para pecinta sepakbola nasional, namun tampaknya hal ini masih belum mengusik hati dan pikirannya untuk menunjukkan perubahan dalam kepengurusannya di lembaga yang dipimpinnya sekarang, sampai rakyat pun harus menyisihkan recehan untuk membuat sepanduk-sepanduk dalam pertandingan sepakbola, padahal recehan tersebut bisa jadi uang jajan anak-anak mereka, tapi yang terjadi yang dikutip dalam sebuah media massa nasional, ketika ada seorang yang membentangkan spanduk-spanduk itu satgas pengamanannya langsung memukuli orang itu, tapi mungkin itu dianggapnya wajar dalam sebuah Republik yang katanya berlandaskan hukum ini, UUD 45 dan Pancasila, tapi menurut saya tindalkan satgas itu sudah mencoreng nama Republik ini, namun apa daya saya bukan siapa-siapa, tidak bisa berbuat apa-apa selain hanya menulis dan berharap ada yang baca, jika tidak ya ndak papa hahaha.

(Mencoba menyimpulkan)
Kalau ingin memajukan negara Indonesia, bukan hanya Industri yang digenjot, bukan hanya politik yang di kedepankan, namun hal-hal seperti olahraga dan kesenian harus diperhatikan, bukankah bangsa ini juga butuh sesuatu yang bisa dibanggakan? Saya rasa kita tidak perlu menunggu bencana alam ataupun revolusi untuk dapat bersatu apabila setiap individu bisa membanggakan negaranya.

(Mencoba menyarankan)
pemimpin perlu bertindak tegas artinya bisa memilih, misalnya kalau terdapat kasus korupsi, pilihannya sikat koruptornya atau ganti aturan supaya tidak dianggap korupsi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s