Mainstream

Beberapa tahun yang lalu seusai sidang praktek kerja lapangan, saya terlibat sebuah diskusi pendek dengan seorang dosen penguji. Saat itu saya telah menjalani praktek kerja lapang disebuah BUMN yang bergerak di bidang pertambangan.

Dosen tersebut menanyakan setelah kamu melihat yang ada di lapangan dan kamu pelajari di kampus, kelak setelah kamu lulus kamu akan bekerja di bidang apa? Pertambangan atau Kehutanan? Dengan diplomatis saya pun menjawab, tergantung mana nanti yang lebih menguntungkan buat saya pak, setelah itu sang dosen pun menimpali wah kamu ini ga punya mainstream.

Saat itu saya berfikir kenapa harus ikut mainstream? Bukankah setiap orang boleh kemana saja? Memang betapa bodohnya saya ini menjawab sekenanya seperti itu,dan akhirnya hal tersebut terngiang terus menerus sampai beberapa waktu yang lalu.

Ada sebuah iklan di televisi,iklan provider telekomunikasi yang saya ingat dalam iklan tersebut ada seorang pemuda yang berkata “hidup ini bebas, asal mengikuti pilihan yang ada” kata – kata tersebut menggelitik, mengingat berbagai pemikiran acak yang muncul dikepala belakangan.

Mainstream pada awalnya saya memahaminya sebagai sebuah arus tunggal yang membawa semua serpihan serpihan yang mudah terbawa disekitarnya. Dengan pemahaman ini seandainya kita menjadi orang yang menentang arus akan menjadi pusat perhatian. Ya sebagian orang akan menganggap bodoh, sebagian yang lainnya akan menganggap keren. Tapi model ini jelas akan menyita banyak energi.

Setelah beberapa waktu saya menemukan definisi alternatif, lagi lagi menurut saya sendiri, mainstream bukanlah sebuah arus tunggal, akan tetapi mainstream adalah arus dalam kanal kanal kecil yang nantinya akan bertemu di saluran yang lebih besar.

Ya begitu banyaknya kata serapan dalam bahasa indonesia menyebabkan kita kadang harus sok tahu supaya ga di cap bego. Menyedihkan memang demi menjaga gengsi kita harus mempertahankan kebodohan ini dengan segala cara.

Maka apa dampaknya bagi kehidupan? Belakangan setelah saya menemukan definisi alternatif mainstream buat saya sendiri,saya mengerti mengapa dosen itu mengeluarkan pernyataan itu, ya itupun kalau definisi kedua tadi kami sepakati bersama tentunya.

Bagaimanapun kita tidak bisa terlepas dari arus utama, bayangkan berapa besar energi yang dibutuhkan untuk membuat sebuah arus utama. Pastilah melelahkan, tidak banyak orang yang sukses membangun arusnya, beberapa orang mengikuti arus yang ada, beberapa orang yang lain membangun arusnya bersama kelompok masing – masing. Sisanya jadi kelompok pembenci arus yang ada yang berarti mereka sebenarnya membangun arus utama juga, Jadi siapa yang sebenarnya tidak menyukai mainstream?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s