Revolusi Mental

Beberapa waktu belakangan saya  tertarik dengan jargon Revolusi Mental yang di sampaikan Bapak Presiden Jokowi selama kampanye. Ketertarikan saya muncul ketika minggu lalu saya selesai membaca buku autobiografi Bung Karno, “Penyambung Lidah Rakyat Indonesia”. Dalam buku tersebut sekali disebutkan kata “Revolusi Mental”, yaitu pada bab 20 (Kolaborator atau Pahlawan). Istilah itu muncul pada saat terjadi diskusi antara Sukarno, Hatta, dan Sjahrir ketika menyusun strategi dalam menentukan sikap terhadap pendudukan tentara Jepang di Hindia Belanda.

,,Bangsa Asia tidak lagi lebih rendah dari orang Barat.” ,,Kondisi-kondisi inilah jang akan mentjiptakan suatu kebulatan tekad. Kalau rakjat kita betul-betul digentjet, maka akan datanglah revolusi mental. Setelah itu, revolusi fisik.” (Sukarno, penyambung lidah rakyat Indonesia – Bab 20)

Sekitar 70 tahun kemudian istilah Revolusi mental kembali di usung oleh Presiden ke 7 Indonesia selama masa kampanye, dan di dengungkan sebagai salah satu program utama yang akan dijalankan selama pemerintahannya.

Revolusi mental berarti warga Indonesia harus mengenal karakter orisinal bangsaĀ Indonesia, sebut Jokowi, merupakan bangsa yang berkarakter santun, berbudi pekerti, ramah, dan bergotong royong. Dia mengatakan, karakter tersebut merupakan modal yang seharusnya dapat membuat rakyat sejahtera. (Jokowi, Kompas.com 17 okt 2014)

Pada buku penyambung lidah rakyat Indonesia ungkapan tersebut muncul ketika Sukarno, Hatta, dan Sjahrir khawatir akan nasib rakyat semenjak kedatangan tentara jepang, khawatir terhadap kekejaman tentara jepang dalam menangani tawanan mereka, dan hal itulah yang diharapkan oleh para pendiri bangsa akan dapat mengetuk mental patriotik rakyat untuk melawan.

Istilah revolusi mental yang diungkapkan Buku Penyambung Lidah Rakyat Indonesia sama dengan jargon yang diusung oleh Presiden Jokowi saat berkampanye, apakah Presiden Jokowi menggunakan makna yang sama dengan ungkapan dalam buku Penyambung Lidah Rakyat Indonesia? jika betul maka cukuplah untuk memahami mengenai berbagai fenomena yang terjadi beberapa waktu belakangan. Mungkinkah hasil akhir yang diharapkan adalah revolusi fisik?

Mengenal lebih dekat : Jayapura

Papua, sebuah pulau yang terletak paling barat Indonesia dengan topografi yang sangat unik berbukit serta dihuni oleh banyak suku asli, Papua terkenal dengan keindahan alamnya yang tidak terkalahkan masih banyak tempat yang belum tersentuh oleh tangan manusia. rasa penasaran meliputi perasaan saat pertama kali mendarat di bandara Sentani jayapura, setelah perjalanan selama kurang lebih 6 jam dengan singgah di bandara sultah Hassanudin Ujung Pandang. Sebelum mendarat saat akan memasuki bandara kita sudah disuguhkan pemandangan yang sangat indah dari atas pesawat, perbukitan yang membentang, hamparan hutan kehijauan, dan ketika semakin mendekat ke Bandara akan terlihat hamparan danau Sentani yang terkenal itu.

Panas yang menyengat menyambut ketika mulai menjejakkan kaki di bumi Cenderawasih. ketika masuk di boarding bandara untuk mengambil barang mulai terlihat salah satu kebiasaan unik yang sudah lama tidak disaksikan, adalah masyarakat yang nginang, ini saya lihat terakhir ketika saya masih kecil karena itu adalah kebiasaan nenek saya. kebiasaan ini dilakukan konon untuk memperkuat gigi, pernah sekali saya mencoba pada saat masih kecil dan saya tidak tahan langsung saya muntahkan. Baca lebih lanjut

lagu nasional Indonesia

ternyata jumlah lagu nasional di Indonesia merujuk pada http://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_lagu_nasional_Indonesia berjumlah 47 buah, kemarin pas gitaran sama rekan-rekan sebangsa dan setanah air ternyata yg kita hafal cuma 13 lagu dan setelah gw lihat daftar lagu tersebut yg gw tau lagunya ga lebih dari 18 lagu, anak-anak jaman sekarang diajarin ga ya setidaknya 47 lagu tersebut? atau mungkin lagu-lagunya terlalu njlimet sehingga susah dihafalin sama bocah?

Ini harus kita bicarakan secepatya :)

(Mencoba membahas)
beberapa hari belakangan saya mengikuti hash tag twitter #nurdinturun, siapakah nurdin yang dimaksud? Yang pasti bukanlah nama seorang tukang gorengan yang setiap malam sibuk menunggu pelanggan yang akan memborong gorengannya hanya untuk membayar sekolah anak-anaknya, bukan nama seorang pemulung yang mengharapkan ada barang yang bisa dia ambil dari tong sampah orang lain untuk dijual kembali sekedar untuk menafkahi keluarganya, bukan pula nama seorang pengemis yang setiap hari berpanas-panas hanya sekedar untuk mendapatkan sesuap nasi untuk keluarganya. Namanya mirip nama seorang terroris yang katanya sudah tewas di tangan sebuah detasmen khusus, tapi untuk kemiripan nama dengan yang terakhir tadi mungkin bukan cuma namanya yang mirip namun kelakuan orang nomor satu di sebuah lembaga sepakbola nasional ini juga mirip dengan teroris setidaknya menurut saya.

Dalam sebuah account twitter yang diikuti oleh ratusan penduduk Indonesia, sempat meminta opini para pengikutnya dengan melempar sebuah pertanyaan pada account-nya Ć¢sebutkan 3 alasan kenapa harus #nurdinturunĆ¢ dan beberapa menjawab bahwa dia korup, tidak becus mengurus Timnas, mempolitisasi persepakbolaan nasional dan banyak pula yang bilang bahwa alasannya terlalu banyak untuk disebutkan tidak cukup kalau cuma tiga, berdasarkan hal tersebut diduga terdapat kesalahan tanpa perbaikan yang dilakukan berulang kali oleh #nurdinturun sehingga itu sudah menjadi rahasia umum rakyat Indonesia, terutama para pecinta bola.

Statement dari #nurdinturun yang dikutip oleh detikcom yang menyatakan bahwa kekalahan Timnas Indonesia dalam ajang piala AFF adalah takdir tidaklah salah apabila dia bukanlah seorang yang berpendidikan atau bisa dimaklumi kalau dia adalah seorang tukang becak yang tidak mampu membeli tiket untuk masuk GBK pada saat final piala AFF digelar, sehingga dia tidak mampu menganalisis pertandingan itu dan tidak mampu melihat kelemahannya sendiri. sebaliknya yang dia gunakan adalah mengkambinghitamkan takdir atas kekalahan Timnas sepakbola Indonesia pada media massa nasional.

Kritik pedas datang dari para pecinta sepakbola nasional, namun tampaknya hal ini masih belum mengusik hati dan pikirannya untuk menunjukkan perubahan dalam kepengurusannya di lembaga yang dipimpinnya sekarang, sampai rakyat pun harus menyisihkan recehan untuk membuat sepanduk-sepanduk dalam pertandingan sepakbola, padahal recehan tersebut bisa jadi uang jajan anak-anak mereka, tapi yang terjadi yang dikutip dalam sebuah media massa nasional, ketika ada seorang yang membentangkan spanduk-spanduk itu satgas pengamanannya langsung memukuli orang itu, tapi mungkin itu dianggapnya wajar dalam sebuah Republik yang katanya berlandaskan hukum ini, UUD 45 dan Pancasila, tapi menurut saya tindalkan satgas itu sudah mencoreng nama Republik ini, namun apa daya saya bukan siapa-siapa, tidak bisa berbuat apa-apa selain hanya menulis dan berharap ada yang baca, jika tidak ya ndak papa hahaha.

(Mencoba menyimpulkan)
Kalau ingin memajukan negara Indonesia, bukan hanya Industri yang digenjot, bukan hanya politik yang di kedepankan, namun hal-hal seperti olahraga dan kesenian harus diperhatikan, bukankah bangsa ini juga butuh sesuatu yang bisa dibanggakan? Saya rasa kita tidak perlu menunggu bencana alam ataupun revolusi untuk dapat bersatu apabila setiap individu bisa membanggakan negaranya.

(Mencoba menyarankan)
pemimpin perlu bertindak tegas artinya bisa memilih, misalnya kalau terdapat kasus korupsi, pilihannya sikat koruptornya atau ganti aturan supaya tidak dianggap korupsi