Anomali perilaku Hammerhead

Akhirnya Hammerhead memasuki masa purna tugas, tombol powernya sejak beberapa bulan yang lalu mengalami anomali perilaku. inisiatifnya terlalu tinggi sering mengeksekusi perintah tanpa diperintah akhirnya belakangan dia selalu melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan peruntukannya.

kemarin saya bongkar dan tidak membuahkan hasil apa – apa kemungkinan akan dibawa ke ‘rumah sakit’ siapa tau masih bisa diselamatkan

ūüė¶

Akibat Ngelamun

Siang ini Otak saya sedang kaku mungkin akibat terpapar AC semalaman akibatnya entah kenapa saya kepikiran tentang sistem buatan. setelah ngelamun beberapa saat di wc dan untuk mengasah keliahaian jemari saya diatas papan ketik saya coba tuangkan dalam paragraf pendek berikut.

Suatu sistem buatan biasanya dibangun untuk menjadikan pekerjaan manusia lebih efisien, artinya semua hal yang terkait dengan pekerjaan berulang (rutin) dilakukan melalui tahapan Рtahapan yang terukur untuk mendapatkan hasil (produk) yang optimal sesuai tujuan. Tahapan Рtahapan yang diterapkan kedalam sebuah sistem biasanya telah melalui serangkaian proses penelitian sehingga pengguna bisa langsung menggunakan sistem yang sesuai dengan kebutuhan mereka.

Perancangan sistem buatan yang disukai biasanya sesuai dengan kapasitas perilaku calon (komunitas) pengguna.Untuk sebuah rutin sederhana mungkin bisa diselesaikan dengan satu sistem saja, sedangkan perancangan suatu sistem buatan yang lebih kompleks biasanya dilakukan dengan memecah suatu rutin menjadi kelompok bagian yang lebih sederhana yang lebih mudah dipahami baru kemudian membuat sistem tersebut saling terhubung satu sama lain sesuai dengan permasalahan yang akan dipecahkan. Sistem yang mampu menyesuaikan diri dengan perilaku pengguna kemudian dikenal dengan sistem kecerdasan buatan.

Sebuah sistem  buatan yang cocok dengan perilaku komunitas penggunanya akan menghasilkan keluaran yang optimal. untuk penerapan suatu sistem buatan, peningkatan kapasitas pengguna terkadang diperlukan agar setiap individu dalam komunitas pengguna mampu memahami dan menjalankan sistem tersebut. Yang paling berbahaya dari penerapan sebuah sistem buatan adalah ketika pengguna tidak memiliki kepercayaan terhadap sistem yang telah dibangun.

Revolusi Mental

Beberapa waktu belakangan saya  tertarik dengan jargon Revolusi Mental yang di sampaikan Bapak Presiden Jokowi selama kampanye. Ketertarikan saya muncul ketika minggu lalu saya selesai membaca buku autobiografi Bung Karno, “Penyambung Lidah Rakyat Indonesia”. Dalam buku tersebut sekali disebutkan kata “Revolusi Mental”, yaitu pada bab 20 (Kolaborator atau Pahlawan). Istilah itu muncul pada saat terjadi diskusi antara Sukarno, Hatta, dan Sjahrir ketika menyusun strategi dalam menentukan sikap terhadap pendudukan tentara Jepang di Hindia Belanda.

,,Bangsa Asia tidak lagi lebih rendah dari orang Barat.” ,,Kondisi-kondisi inilah jang akan mentjiptakan suatu kebulatan tekad. Kalau rakjat kita betul-betul digentjet, maka akan datanglah revolusi mental. Setelah itu, revolusi fisik.” (Sukarno, penyambung lidah rakyat Indonesia – Bab 20)

Sekitar 70 tahun kemudian istilah Revolusi mental kembali di usung oleh Presiden ke 7 Indonesia selama masa kampanye, dan di dengungkan sebagai salah satu program utama yang akan dijalankan selama pemerintahannya.

Revolusi mental berarti warga Indonesia harus mengenal karakter orisinal bangsa Indonesia, sebut Jokowi, merupakan bangsa yang berkarakter santun, berbudi pekerti, ramah, dan bergotong royong. Dia mengatakan, karakter tersebut merupakan modal yang seharusnya dapat membuat rakyat sejahtera. (Jokowi, Kompas.com 17 okt 2014)

Pada buku penyambung lidah rakyat Indonesia ungkapan tersebut muncul ketika Sukarno, Hatta, dan Sjahrir khawatir akan nasib rakyat semenjak kedatangan tentara jepang, khawatir terhadap kekejaman tentara jepang dalam menangani tawanan mereka, dan hal itulah yang diharapkan oleh para pendiri bangsa akan dapat mengetuk mental patriotik rakyat untuk melawan.

Istilah revolusi mental yang diungkapkan Buku Penyambung Lidah Rakyat Indonesia sama dengan jargon yang diusung oleh Presiden Jokowi saat berkampanye, apakah Presiden Jokowi menggunakan makna yang sama dengan ungkapan dalam buku Penyambung Lidah Rakyat Indonesia? jika betul maka cukuplah untuk memahami mengenai berbagai fenomena yang terjadi beberapa waktu belakangan. Mungkinkah hasil akhir yang diharapkan adalah revolusi fisik?

Belajar butuh belajar

Dulu sekali saat masih sekolah, sering saya berfikir sebenarnya apa yang dimaksud belajar itu, bagaimana cara belajar, bagaimana bisa guru – guru itu bisa menyuruh semua anak didiknya untuk belajar sementara ada orang bodoh macam saya yang harus mencari makna apa itu belajar, dan bagaimana kawan-kawan saya dengan mudah mengerti apa itu belajar.

Awal mengenyam bangku pendidikan, saya merasa mudah sekali melaluinya karena tidak ada paksaan untuk belajar sehingga saya tidak perlu mencari definisi belajar. Saat itu semua terasa mudah saya hanya senang membaca saja dan tidak perlu menerjemahkan apa makna belajar sesungguhnya semua saya lakukan dengan acak tapi menyenangkan. Sampai akhirnya ada paksaan otak saya untuk memahami apa arti belajar.

Hal yang sama terjadi saat mulai belajar tentang IT, profesi yang coba saya geluti belakangan semenjak saya lulus dari fakultas kehutanan. Semua terasa mudah ketika saya membuat masalah dan menemukan solusi secara acak dari bantuan dunia maya dan komunitas.

Dalam dunia profesional menurut saya sangat penting menguasai konsep-konsep pokok dalam bidang yang kita geluti. Menghabiskan waktu untuk mencari solusi jangka pendek seringkali tidak menyelesaikan masalah bahkan menimbulkan permasalahan baru yang lebih kompleks. Saat permasalahan timbul kita harus mundur 4 hingga 5 langkah bahkan lebih untuk menemukan akar permasalahan, untuk itu menjadi pembelajar aktif sangat diperlukan terutama dalam bidang yang terus berkembang.

Belajar adalah proses memahami yang dilakukan secara berulang, belajar dimulai dengan penggalian minat, merangsang otak untuk mencari rantai sistematika cara berfikir mengenai sebuah topik. Diharapkan setelah kita selesai mempelajari sebuah topik kita dapat memecahkan permasalahan sesuai dengan pokok permasalahannya, maka dari itu belajar memerlukan latihan secara bertahap. Disitulah kita dapat menilai diri seberapa siap kita menerjemahkan permasalahan, saat ini banyak kekacauan dikarenakan kesalahan menerjemahkan masalah, yang membuat kita terjebak untuk menyelesaikan permasalahan yang salah.

Selain itu hasil belajar seharusnya dapat menterjemahkan seberapa mampu seseorang untuk merencanakan sesuatu, menyederhanakan permasalahan, dan menyelesaikan permasalahan yang timbul.

Dalam belajar kita perlu mengasah kekuatan fokus pikiran terhadap topik yang sedang kita pelajari, tingkat adaptasi terhadap perubahan tema dan kemampuan memahami dan menyusun sistematika rantai permasalahan. Hal tersebut bisa dilakukan dengan membuat tulisan tulisan pendek seusai mempelajari suatu hal.

Ternyata masih banyak yang belum saya lakukan untuk belajar dan belajar ternyata butuh belajar, selamat belajar

Mainstream

Beberapa tahun yang lalu seusai sidang praktek kerja lapangan, saya terlibat sebuah diskusi pendek dengan seorang dosen penguji. Saat itu saya telah menjalani praktek kerja lapang disebuah BUMN yang bergerak di bidang pertambangan.

Dosen tersebut menanyakan setelah kamu melihat yang ada di lapangan dan kamu pelajari di kampus, kelak setelah kamu lulus kamu akan bekerja di bidang apa? Pertambangan atau Kehutanan? Dengan diplomatis saya pun menjawab, tergantung mana nanti yang lebih menguntungkan buat saya pak, setelah itu sang dosen pun menimpali wah kamu ini ga punya mainstream.

Saat itu saya berfikir kenapa harus ikut mainstream? Bukankah setiap orang boleh kemana saja? Memang betapa bodohnya saya ini menjawab sekenanya seperti itu,dan akhirnya hal tersebut terngiang terus menerus sampai beberapa waktu yang lalu.

Ada sebuah iklan di televisi,iklan provider telekomunikasi yang saya ingat dalam iklan tersebut ada seorang pemuda yang berkata “hidup ini bebas, asal mengikuti pilihan yang ada” kata – kata tersebut menggelitik, mengingat berbagai pemikiran acak yang muncul dikepala belakangan.

Mainstream pada awalnya saya memahaminya sebagai sebuah arus tunggal yang membawa semua serpihan serpihan yang mudah terbawa disekitarnya. Dengan pemahaman ini seandainya kita menjadi orang yang menentang arus akan menjadi pusat perhatian. Ya sebagian orang akan menganggap bodoh, sebagian yang lainnya akan menganggap keren. Tapi model ini jelas akan menyita banyak energi.

Setelah beberapa waktu saya menemukan definisi alternatif, lagi lagi menurut saya sendiri, mainstream bukanlah sebuah arus tunggal, akan tetapi mainstream adalah arus dalam kanal kanal kecil yang nantinya akan bertemu di saluran yang lebih besar.

Ya begitu banyaknya kata serapan dalam bahasa indonesia menyebabkan kita kadang harus sok tahu supaya ga di cap bego. Menyedihkan memang demi menjaga gengsi kita harus mempertahankan kebodohan ini dengan segala cara.

Maka apa dampaknya bagi kehidupan? Belakangan setelah saya menemukan definisi alternatif mainstream buat saya sendiri,saya mengerti mengapa dosen itu mengeluarkan pernyataan itu, ya itupun kalau definisi kedua tadi kami sepakati bersama tentunya.

Bagaimanapun kita tidak bisa terlepas dari arus utama, bayangkan berapa besar energi yang dibutuhkan untuk membuat sebuah arus utama. Pastilah melelahkan, tidak banyak orang yang sukses membangun arusnya, beberapa orang mengikuti arus yang ada, beberapa orang yang lain membangun arusnya bersama kelompok masing – masing. Sisanya jadi kelompok pembenci arus yang ada yang berarti mereka sebenarnya membangun arus utama juga, Jadi siapa yang sebenarnya tidak menyukai mainstream?